Senin, 23 Januari 2017

Apa imbas kebijakan awal Trump bagi Indonesia


Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence bersama istrinya menyambut Presiden Donald Trump dan istrinya saat makan malam bersama para donaturnya, Kamis (19/1). Setelah dilantik, Trump langsung menarik AS dari perjanjian dagang Trans Pacific Partnership.
Donald Trump akhirnya menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke 45. Pada Jumat (20/1) waktu Washington DC, Trump akhirnya dilantik menggantikan Barack Obama.

Dalam beberapa jam, Trump langsung merealisasikan apa yang kerap menjadi sasarannya saat kampanye, menarik diri dari perjanjian dagang.

Menurut Gedung Putih, kantor Presiden AS, mundurnya AS dari perjanjian dagang ini untuk melindungi pekerja AS.

Satu yang langsung ia eksekusi adalah perjanjian Trans Pacific Partnership (TPP).

Gedung Putih, menurut Reuters, menyatakan menarik diri dari perjanjian yang dijalin oleh 12 negara itu untuk meyakinkan setiap perjanjian perdagangan memberikan keuntungan bagi pekerja AS.

Awalnya, saat masih di tangan Obama, AS bergabung dengan perjanjian ini untuk menghadang Tiongkok yang mendominasi ekonomi dunia.

Tak hanya itu, Gedung Putih juga akan menimbang ulang perjanjian perdagangan the North American Free Trade Agreement (NAFTA). Perjanjian AS dengan Kanada dan Mexico itu sudah dijalin sejak 1994.

Lewat akun Twitternya, Trump kerap kali menyuarakan masalah proteksi ekonomi AS. Tak lama setelah dilantik, Trump kembali menyatakan hanya akan mengikuti dua aturan simpel. "Beli barang produksi Amerika, dan mempekerjakan orang Amerika."
We will follow two simple rules: BUY AMERICAN & HIRE AMERICAN!#InaugurationDay #MAGA????????
— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) January 20, 2017


Apa imbasnya bagi Indonesia?

AS memang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia ke AS, rentang 2011-2015 bahkan selalu surplus. Artinya, ekspor Indonesia ke AS selalu lebih besar dari pada impor Indonesia dari AS.

Dengan kebijakan proteksi, maka akan mengurangi peluang ekspor Indonesia ke AS.

Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, seperti dipetik dari detikfinance menilai proteksi ini tidak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia ke AS.

Sebab, produk-produk ekspor andalan Indonesia ke AS, selain merupakan produk-produk yang berbasis komoditas yang kompetitif seperti karet, udang dan furniture.

Komoditas ekspor ke AS juga merupakan produk manufaktur padat karya yang mengandalkan upah buruh murah, seperti tekstil, produk tekstil, dan alas kaki.

Kontribusi tiga produk itu mencapai 31 persen dari total ekspor Indonesia ke AS.

Dengan upah yang relatif tinggi, peluang AS untuk membangun industri manufaktur padat karya yang kompetitif masih sangat kecil.

Dengan demikian, AS diperkirakan akan tetap mengimpor produk-produk tekstil, pakaian jadi dan alas kaki dari negara-negara yang berupah murah seperti Vietnam dan Indonesia.

Prama Yudha Amdan, Executive Asisstant Presiden Director PT Asia Pacific Fibers Tbk menyatakan, kebijakan proteksi akan menyulitkan ekspor.

Di sisi lain, Indonesia berpotensi mendapat limpahan impor dari negara yang tidak bisa masuk AS. "Hal tersebut berpotensi membahayakan industri domestik," ujarnya seperti dinukil dari KONTAN.

Di sisi lain, jika Trump membatalkan proyek green energy warisan Obama, maka bisa mendongkrak harga batubara.

Hendra Sinadia, Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengatakan, jika dibatalkan maka lembaga pembiayaan AS akan mengucurkan pendanaan ke proyek-proyek industri batubara. "Berdampak positif untuk sektor dunia termasuk tanah air. Ini yang paling signifikan," katanya.

User Kaskus : BeritagarID
Load disqus comments

0 komentar